Pengembangan dan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan menjadi sebuah permasalahan tersendiri. Pro kontra tentang pengembangan AI mengembang bahkan di kalangan tokoh elit dunia IT itu sendiri. Sebut saja perdebatan antara bos Facebook Mark Zuckerberg dan bos spaceX Elon (Iron Man) Musk tentang perlunya regulasi bagi pengembangan AI agar tidak menyebabkan kerusakan  [1]. Sebagai mana diketahui, Artificial Intelligence adalah pengembangan software yang rumit  yang meningkatkan kemampuan softaware agar dapat beradaptasi dan belajar dari lingkungan sekitarnya dengan berbagai metode dan teori tertentu. Saat ini pengembangan AI bisa dilihat pada pengembangan mobil autonomos (nirawak) yang dikembangkan oleh Tesla, asisten digital dan otomatisasi di internet yang dikembangkan oleh berbagai perusahaan. Diantaranya Facebook menggunakan AI untuk kurasi berita, menjalankan targeted advertising, serta tag foto; Microsoft dan Apple memakainya untuk membuat aplikasi asisten pribadi; dan Google memakainya untuk membentuk mesin pencari internet.

Presiden Rusia, Vladimir Putinpun memberikan tanggapan terhadap AI. Menurutnya, “(AI) Menawarkan peluang yang sangat besar, tapi juga ancaman yang sulit diprediksi. Negara manapun yang memimpin dalam hal ini (pengembangan AI) bakal menguasai dunia,” sebut Putin dalam sebuah siaran kepada mahasiswa Rusia bulan September 2017 yang lalu [2]. Pernyataan Vladimir Putin memancing reaksi dari Elon Musk, tokoh teknologi yang dikenal memiliki kekhawatiran bahwa pengembangan AI yang tak terkendali bisa membawa akibat buruk bagi masa depan dunia.

Dalam sebuah tweet, Elon Musk, sang pendiri Tesla dan Space X, memprediksi bahwa negara-negara adidaya akan terlibat perlombaan memuat AI. Menurut dia, hal tersebut bisa memicu perang besar.

Elon Musk mengatakan, nantinya pemincu perang dunia III bukanlah negara-negara pembuat AI, melainkan program AI itu sendiri. Macam di film Terminator, AI bisa saja memutuskan untuk menyerang negara lain, setidaknya begitu menurut Elon Musk.

Namun beberapa pihak tidak sepakat dengan kekhawatiran yang menurut mereka terlalu berlebihan ini. Seperti mantan Eric Schmidt, mantan CEO Google yang kini menjabat sebagai chairman di Alphabet. Schmidt berpendapat “pemberontakan” AI, kalaupun terjadi, bisa dihentikan dengan mudah. Cukup matikan saja komputer tempatnya berada [3]. Dan ada beberapak lagi yang sependapat dengannya.

Potensi bahaya yang ditimbulkan oleh AI adalah ketika teknologi ini dikerjakan oleh pihak-pihak  yang tak bertanggung jawab dengan mengembangkan AI untuk melukai, menghancurkan, mengalahkan, memonopoli dan tindak kejahatan lain. Pihak yang berpotensi menyalah gunakan teknologi ini menurut ilmuwan komputer Roman Yampolsky dan seorang hacktivist Federico Pistono adalah pihak militer (dengan mengembangkan senjata robot berbasis AI untuk dominasi kekuatan), pemerintah (untuk menguasai warga dan negara lain), perusahan (untuk memonopoli usaha), hacker dan kriminal [4].

Menurut saya, segala sesuatu memang memiliki dua sisi positif dan negatif sebagaimana dua sisi mata uang. Begitu juga kecerdasan buatan memang memiliki peluang sekaligus ancaman. Dillema antara sisi positif dan sisi negatifnya adalah jika teknologi AI digunakan oleh orang yang bertanggung jawab, teknologi ini akan sangat berguna bagi manusia. Tapi sebaliknya, jika pihak yang tak bertanggung jawab menguasai teknologi ini, bukan tidak mungkin kerusakan bahkan kehancuran umat manusia dapat terjadi. Dan bila hal ini terjadi, sungguh sangat bertolak belakang dengan etika dasar pengembangan teknologi (etika kemanusiaan). Dimana teknologi digunakan untuk membantu umat manusia, bukan untuk merusak apalagi menghancurkan dan memusnahkan kehidupan manusia. Teknologi harus digunakan untuk menjaga keberlangsungan kehidupan manusia dan lingkungan. Disamping itu pelanggaran ini juga berkaitan dengan Conseptual Ethics. Jika teknologi digunakan secara tidak aman serta dapat merusak dan mengganggu keselamatan lingkungan.

Sebagai solusinya, saya setuju dengan pendapat Elon Musk, Stephen Hawking [5] dan yang lain yang menyatakan bahwa perlu adanya regulasi/aturan dari pemerintah untuk pengembangan teknologi AI ini. Bahkan mungkin tidak hanya pemerintah, akan tetapi PBB harus membuat sebuah aturan global yang berlaku bagi seluruh negara di dunia ini untuk mengontrol pengembangan AI. Jangan sampai kita bertindak setelah semuanya terjadi. Istilah pencegahan lebih baik daripada penanggulangan mungkin sesuai untuk kasus ini.

Sumber referensi:

Iklan