Pada dasarnya, setiap individu, kelompok atau  setiap entitas manusia mempunyai kebebasan yang sebebas-bebasnya untuk melakukan apapun sekaligus mempunyai kebebasan untuk mendapatkan apapun. Kebebasan tiap entitas ini kemudian yang saling bersinggungan. Kebebasan seseorang untuk melakukan sesuatu terkadang mengikis kebebasan orang lain untuk mendapatkan sesuatu.

Sebagai contoh kasus: Sebuah website pada sebuah universitas mengalami lonjakan trafik pengunjung. Setelah diselidiki, ternyata hal itu bermula dari sebuah halaman blog salah satu mahasiswa. Dalam blog tersebut, mahasiswa tersebut memposting banyak artikel yang terindikasi bermuatan hoax seperti artikel yang ditayangkan pada portal-portal berita ilegal di luar kampus. Salah seorang mahasiswi yang sempat membaca artikel tersebut, mengirimkan keluhan kepada pengelola website terkait adanya hoax pada artikel mahasiswa. Pihak pengelola kemudian melakukan investigasi dan kemudian mengambil tindakan untuk menghapus konten-konten berbau hoax pada blog mahasiswa tersebut. Mengetahui artikel yang ia posting dihapus, mahasiswa tersebut mengajukan protes dengan dalih Hak untuk Mengemukakan pendapat.

Pada kasus di atas, pada awalnya si mahasiswa memiliki hak untuk memposting apapun yang menjadi opininya, seperti yang tertuang dalam First Amandment Rights. Akan tetapi pada tahapan selanjutnya ternyata kebebasan mahasiswa tersebut menggangu kebebasan seorang mahasiswi untuk mendapatkan informasi yang benar dan dapat dipertanggung jawabkan. Mahasiswi merasa terganggu dengan adanya hoax tersebut yang kemungkinan dapat menggangu wawasan, opini bahkan pola pikirnya. Demikian juga dengan pihak universitas, hak universitas untuk mendapatkan kepercayaan publik menjadi terganggu dengan adanya postingan yang berisi sesuatu yang bersifat hoax dan tidak dapat dipertanggung jawabkan.

Kita bisa analogikan seperti ini: Misalkan seorang penghuni kawasan pemukiman yang mempunyai hobi mendengarkan musik, baru saja membeli satu set peralatan audio yang canggih. Peralatan audio tersebut mampu mengeluarkan suara yang bagus dan mampu menjangkau jarak yang jauh. Untuk menyalurkan hobinya, warga tersebut memutar musik dengan peralatan audio yang baru ia beli kapanpun tanpa mengenal waktu dengan volume yang keras hingga tetangga disekitar rumahnya merasa terganggu dengan suara tersebut. Sebagai pemilik peralatan audio dan penghobi musik, tentu saja warga tersebut berhak dan bebas untuk memutar peralatan audio tersebut sesuai dengan yang ia kehendaki. Akan tetapi, para tetangga di sekitar rumahnya juga mempunyai hak untuk mendapatkan ketenangan dan terbebas dari gangguan suara gaduh dari luar rumahnya masing-masing. Kedua entitas ini mempunyai kebebasan masing-masing. Dan ternyata kebebasan yang satu bersinggungan dengan kebebasan yang lain. Jika kebebasan yang satu dilakukan secara sebebas-bebasnya, maka dapat mengikis kebebasan entitas yang lain. Oleh karena itu, kebebasan yang satu terbatasi oleh kebebasan yang lain. Sehingga kebebasan warga yang mempunyai peralatan audio tersebut harus membatasi haknya untuk memutar musik agar tidak sampai mengganggu kebebasan tetangga (warga yang lain) yang menginginkan ketenangan tanpa adanya gangguan dari suara peralatan audio tersebut.

Dengan demikian, kebebasan awal yang dimiliki mahasiswa tersebut terkikis oleh kebebasan mahasiswi untuk mendapatkan informasi yang berkualitas dan juga oleh kebebasan universitas untuk mendapatkan kepercayaan publik. Bukan berarti kebebasan si mahasiswa untuk mengungkapkan pendapat hilang, akan tetapi kebebasan tersebut harus dikurangi dengan menambahkan syarat yaitu pendapat yang diposting harus merupakan informasi yang benar, dengan sumber yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan.

Iklan