Setelah memutuskan jalan yang akan ditempuh, sore harinya saya menghubungi keluarga terdekat untuk meminta doa dan restu mereka bahwa anak kami akan menjalani operasi. Kecuali mertua saya (yang juga sedang bersiap-siap untuk menjalani operasi di bagian punggung). Dan semua terkejut dengan kabar tersebut. Astaghfirullohal adzim, kenapa dengan adek, ada apa? Begitu sebagian besar pertanyaan mereka.

Hari yang mendebarkanpun tiba. Anak saya diharuskan puasa mulai jam 4 pagi. Kasihan, hanya itu kata yang tepat baginya. Dia sudah tidur sejak jam 4 sore (sebelum sempat makan sore) dan bangun pagi pada jam setengah 4. Praktis selama itu tidak ada makan yang masuk ke dalam perutnya selain sepotong biskuit yang ia makan saat bangun. Jam 4 pagi perawat sudah datang untuk memasang (lagi) infus dan memasukkan beberapa obat.

Setelah itu, waktu berjalan terasa sangat lamban. Anak kami merengek minta makan, minum susu, es krim, oreo, dan sebagainya. Kami hanya bisa membujuknya agar dapat menahan lapar. Kami beritahu bahwa sementara tidak boleh makan karena perutnya mau diobati. Tak tega dengan anak saya yang sedang puasa, saya yang sedari pagi sudah membeli nasi bungkus untuk sarapan, tak jadi memakannya dan berniat untuk menemani anak saya tidak makan sampai dia diperbolehkan makan. Lelah dan lapar akhirnya anak kami tertidur.

Saya bolak balik tanya ke perawat jam berapa operasi akan dilaksanakan? Mereka hanya bilang “Menunggu panggilan dari Ruang Operasi”. Sambil menunggu jadwal operasi anak kami, saya coba cari tau operasi yang akan dijalani oleh ibu mertua saya/ Jam 9 lebih sedikit saya coba menghubungi kakak ipar yang sedang menunggui ibu mertua saya yang juga akan menjalani operasi. Saya tanyakan apakah ibu sudah masuk? Dan dia mengabarkan bahwa baru saja ibu masuk ke ruang operasi. Agak lega rasanya karena yang saya khawatirkan tidak terjadi. Kami sempat khawatir bahwa ibu mertua tahu bahwa cucunya akan menjalani operasi. Kami memang sengaja merahasiakan ini karena dikhawatirkan beliau jadi terbawa pikiran dan kemungkinan terburuknya beliau kemudian membatalkan jadwal operasinya.

Terlalu lama menunggu di bangsal, saya putuskan untuk menemani ipar saya di depan ruang operasi sambil menunggu jadwal anak kami. Baru sebentar saya berada di sana, istri saya sudah memberi kabar bahwa anak kami akan segera dibawa. Saya kembali ke bangsal dan belum sampai ke sana saya sudah berpapasan dengan perawat yang sedang mendorong bed anak kami. Terlihat anak saya lemas dan hanya menggerak-getakkan matanya (mungkin efek baru bangun tidur).

Sesampainya di depan pintu masuk ruangan operasi, saya dan istri hanya bisa berdiri mematung, terdiam dan tak tahu harus bagaimana. Hingga perawat yang mengantar anak kami menyadarkan kami dengan panggilannya. “Sini, didoakan dulu anaknya” begitu panggilan mbak perawat yang terlihat sudah cukup senior. Kamipun kebingungan sampai tak tahu mau membaca doa apa. Hanya bacaan Al fatihah 3 kali yang saya lantunkan sambil mengusap kepala anak saya, kemudian saya bisikkan ke telinga anak saya “Adek kuat geh,….. adek kuat geh….”. Tangis istri saya pecah sebelum doa terucap dari mulutnya. Perawat yang mengantar kamipun ikut tak kuasa menahan air matanya.

Setelah itu, kami dipersilahkan keluar dan anak kami dipindahkan ke bed khusus ruang operasi Waktu iti sekitar pukul 10.10. Kami menunggu dengan komat kamit membaca doa sebisanya. Sebentar kemudian, ibu mertua keluar dari ruang operasi. Lemas dan belum sepenuhnya sadar, beliau dibawa ke ruang perawatan, dan hanya kakak ipar saya yang bisa menemani. Sementara saya dan istri tetap berada di ruang tunggu operasi.

Satu seperempat jam berlalu, sekitar pukul 11.30 saat pintu ruang operasi dibuka, terdengar suara jeritan yang tak asing di telinga kami. Itu adalah tangisan anak kami. Kami segera berdiri di depan pintu menunggu buah hati kami keluar. Sesaat setelah itu dua orang perawat mendorong bed tempat anak kami ditidurkan. Dari ruang operasi sampai bangsal tempat perawatan, anak kami tak henti-hentinya menangis. Setiap orang yang berpapasan melongok ke anak kami dan berucap lirih: “kasihan…..anak kecil”. Kami berdua hanya bisa mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di kamar perawatan, tangisan anak kami tak kunjung berhenti. Tak cukup hanya dengan menangis, kali ini dia mulai meronta. Kamipun segera memegang tanganya, jangan sampai menggaruk ataupun menarik bagian perutnya yang baru saja dioperasi. Tangisannya semakin keras memecah kesunyian bangsal. Istri saya coba menenangkan dengan mengatkan ini Ibu dek… Ini bapak… Sambil mengusap keningnya. Saya coba mengajaknya bersholawat dengan sholawat yang biasa saya lantunkan sebagai pengantar tidur yaitu sholawat Thibbil Qulub sambil mengusap dan memijit kakinya. Bapak dan adik saya yang baru saja tiba hanya bisa terdiam menyaksikan anak kami menangis. Perawat yang tadi mengantar ke ruang operasi masuk. Dia bilang “kasihan ya,,, anak kecil”. Kemudian dia menjelaskan bahwa saat ini yang bisa dilalukan hanya menunggu sampai dia muntah. Baru bisa diberi obat penahan nyeri. Jika diberikan sekarang, maka anak kami tidak sadar lagi.
Saat itu teriakannya hanya nananana…. dan jeritan lain yang tidak ada artinya. Tak terdengar panggilan Ibu… atau bapak… Mungkin saat itu anak kami belum sadar sepenuhnya dan merasa perih pada bagian yang dioperasi, karena pengaruh obat bius sudah mulai pudar.
Akhirnya setelah sekitar satu setengah jam menangis, anak kami tertidur walaupun tidak pulas. Sebentar sebentar terbangun dan menangis lagi. Sebentar kemudian tertidur lagi. Begitu berulang-ulang hingga akhirnya dia muntah sekitar pukul 4 sore. Segera setelah itu saya laporkan ke perawat.
Sejurus kemudian, perawat datang dan langsung menyuntikkan beberapa obat melalui selang infus yang terpasang di tangan kanan anak saya. Dan setelah itu, anak saya mulai tenang. Keluar rintihan lirih dari mulutnya: “Ibu……”. Selang beberapa saat kemudian, dia terlelap. Tidur dengan pulasnya sampai tengah malam. Lega rasanya.
Dua hari menjalani perawatan paska operasi di rumah sakit, Alhamdulilah, anak kami diperbolehkan pulang dengan kondisi stoma (usus besar yang dikeluarkan dan dijahit dengan kulit pada lubang di perut) mengembang pada perut sebelah kiri bawah. Dan tanggung jawab kami selanjutnya adalah merawat anak kami (khususnya kebersihan stoma) dengan sebaik-baiknya.

Semoga Allah selalu memberikan kekuatan dan perlindungan kepadamu anakku.

Berlanjut…

 

Iklan