Menjelang usianya yang menginjak tiga tahun, anak kami mengalami gangguan pencernaan. Hal itu terlihat pada saat anak kami buang air besar. Awalnya dia mengeluh sakit saat mau buang air besar. Periode buang air besar anak kami terbilang cukup lama. Kadang empat hari sekali atau bahkan seminggu sekali. Kami mengira bahwa anak kami sembelit. Kami coba untuk memberikan buah pepaya dan pisang, mengikuti pandangan umum bahwa pepaya atau pisang dapat memperlancar proses buang air besar. Akan tetapi ternyata belum cukup untuk menyembuhkan anak saya.

Kamipun membawa anak kami ke Puskesmas terdekat untuk memeriksakan pencernaan anak kami. Dokter bilang “Nggak apa-apa, itu wajar”. Dokter puskesmas hanya menyarankan untuk banyak minum air putih dan makan buah-buahan. Kamipun menuruti saran dokter. Kami coba memberikan buah-buahan pada anak kami. Buah apapun coba kami berikan. Kami tawarkan pada anak kami, pengen buah apa? Kalau anak kami bilang buah apel, kami segera membelikannya. Buah semangka, juga sama. Terutama buah pepaya, kami selalu memberikannya buah pepaya dengan harapan dapat memperlancar proses pencernaanya. Saking seringnya kami memberikan buah pepaya, anak kami sampai bosen dan tidak mau lagi makan buah pepaya. Namun hal tersebut ternyata belum dapat memperlancar pencernaan anak kami. Setelah beberapa minggu dan tidak ada perubahan, kami kembali membawa anak kami ke Puskesmas. Dokter masih berkesimpulan dengan bahwa hal itu wajar dan cukup ditangani dengan mengkonsumsi banyak air putih dan buah-buahan.

Kami mulai khawatir karena menurut kami, kami sudah menuruti anjuran dokter tersebut, tapi kondisi anak kami belum membaik.

Saat itu setiap mau buang hajat, anak kami selalu berkeringat, terlihat pucat dan dingin. Tubuhnyapun terlihat tidak nyaman. Saat dia bermain di dalam rumah dan merasa akan buang air besar, dia mojok di sela-sela kursi atau di samping aquarium kemudian dia membungkuk atau posisi seperti merangkak. Jika pada saat seperti itu kami menegurnya dan membawanya ke toilet agar tak keluar di celana, BABnya malah ngga jadi keluar. Pada kesempatan selanjutnya kami membiarkan dia mengeluarkan BABnya dicelana (disela-sela bermain) daripada BABnya tidak jadi keluar. Kadang saat BABnya keluar, anak kami menghentak-hentakkan kakinya ke lantai dengan keringat yang bercucuran. Entah itu untuk menahan sakit atau untuk membantu mendorong BAB agar cepat keluar. Kemudian kami mencoba memberinya obat sembelit (M*****ax) untuk membantunya mengeluarkan kotoran. Dan alhamdulilah berhasil. Akan tetapi berhasil untuk sementara. Hari-hari selanjutnya anak kami tetap kesulitan mengeluarkan kotorannya. Tubuhnyapun terlihat kurus. Berat badannya hanya 11 Kg.

Tak tega dan tak tau harus bagaimana, kami membawanya ke rumah sakit. Saat itu dia sedang mengalami batuk dan demam. Saya menyarankan istri saya (kebetulan saya sedang tidak bisa mengantarnya) untuk membawanya ke rumah sakit. Saya sarankan untuk mendaftar lewat pendaftaran umum (bukan peserta BPJS karena tidak punya rujukan dari puskesmas). Saat diperiksa di poli spesialis anak, dokter merekomendasikan untuk opname karena suhu badan anak kami yang cukup tinggi. Kemudian anak kami menjalani rawat inap dan divonis mengalami radang paru-paru. Setelah menjalani perawatan selama tiga hari, anak kami diperbolehkan pulang. Akan tetapi, kami meminta kepada dokter untuk melakukan cek pada sistem pencernaan anak kami dengan menceritakan kondisi kesehatan pencernaan anak kami. Dokterpun mengiyakan dan menunda kepulangan kami.

Dua hari selanjutnya anak kami menjalani pemeriksaan pencernaan. Dimulai dengan puasa dari jam 12 malam dan hanya boleh minum air (jika terpaksa), dikasih contras atau apa itu namanya (zat padat berbentuk panjang warna putih seperti lilin yang dimasukkan ke dalam anus untuk membantu mengeluarkan kotoran). Selang beberapa jam, anak kami mengeluarkan banyak kotoran yang cukup banyak. Kemudian dibawa ke ruang pemeriksaan untuk di foto rontgen.
Hasil pemeriksaan diserahkan pada hari berikutnya. Dan berdasarkan hasil foto tersebut dokter anak menyimpulkan bahwa anak kami mengidap kelainan alat pencernaan bernama “Mega kolon”. Dan untuk tindakan selanjutnya menunggu konsultasi dengan “Dokter Bedah Anak”. Hah, dokter bedah anak? Batin saya. Berarti anak kami harus dioperasi? Sedih, bingung, tak tega dan kasihan bercampur aduk dalam benak kami. Anak kami yang belum genap berumur tiga tahun harus dioperasi? Bagaimana saat harus puasa? Bagaimana cara melipurnya dari sakit pasca operasi? Bagaimana perawatan setelahnya. Dan banyak lagi kata bagaimana si benak kami.
Kami coba cari informasi di internet dan sebagian besar menyatakan bahwa dalam ilmu kedokteran, satu satunya jalan yang dilakukan untuk nengatasi kelainan pada anak kami adalah operasi. Ada beberapa teman yang menyarankan untuk membawa ke pengobatan alternatif. Tapi saya tak cukup yakin dengan pilihan tersebut. Hal itu berdasar pada pengalaman saat bapak saya mengalami gangguan prostat. Waktu itu bapak sempat berobat ke alternatif. Tapi baru beberapa minggu kemudian, penyakit bapak saya kambuh lagi dan harus dilarikan ke rumah sakit. Saya yang ikut mengantarkan bapak ke rumah sakit, tak tega melihat beliau mengerang saat masih dalam perjalanan menuju rumah sakit. Hal tersebut membuat saya ragu untuk memilih pengobatan alternatif bagi anak saya. Disamping tak tega jika nanti akhirnya ke rumah sakit lagi dalam keadaan kesakitan, saya tak mau ambil resiko karena ini masalah pencernaan yang menurut saya ini termasuk hal yang beresiko.

Hari berikutnya dokter speaialis bedah anak berkunjung ke kamar diikuti perawat yang menenteng map persetujuan tindakan operasi. Waktu itu hanya ada istri saya yang menunggui anak kami. Dokter menerangkan tentang prosedur operasi yang akan dilaksanakan. Kemudian istri saya menghubungi saya untuk menandatangani surat persetujuan tindakan operasi. Satu jam kemudian saya baru tiba di rs dan mendengar penjelasan dari istri saya. Kurang puas dengan keterangan istri saya, saya menuju lobi dan menanyakan tentang operasi tersebut. Dan saya diarahkan untuk menuju ruang praktek dokter bedah anak dan alhamdulilah dokter masih berada disana.

Dokter menjelaskan secara rinci proses operasi yang harus dilaksanakan untuk mengatasi kelainan yang diderita anak kami selama lebih dari setengah jam. Operasi akan dilaksanakan dua kali. Pertama adalah tindakan pemotongan usus besar pada satu step bagian atas dari bagian yang tidak terdapat ganglion (bagian yang tidak terdapat saraf), kemudian dibuatkan lubang pada bagian perut yang berfungsi sebagai saluran pembuangan feses sementara. Jadi potongan usus besar bagian atas dikeluarkan dan dijahit pada perut sebagai saluran pembuangan (kolostomi), sedangkan potongan bagian bawah (saluran ke anus) dinon-aktifkan. Tindakan ini disebut dengan leveling colostomy.
Sebagian dari potongan usus besar akan dikirimkan ke bagian Patologi Anatomi untuk diperiksa hipotesa awal dari dokter yang menyatakan bahwa pada bagian tersebut tidak ada ganglion (saraf) benar atau tidak. Hasil pemeriksaan akan muncul setelah 14 hari.
Tindakan yang kedua adalah tindakan penyambungan antara usus bagian atas yang dipotong dengan saluran pembuangan. Dokter menyebutnya dengan operasi Pull Through (semoga tidak salah tulis). Dan dokter bilang bahwa tindakan operasi ini termasuk kategori berat. Tindakan ini bisa dilakukan minimal satu bulan dari tindakan pertama (leveling colostomy).
Jadi selama sebulan lebih anak kami harus membuang kotorannya melalui kolostomi. Pada lubang tersebut akan dipasang kantong untuk menampung kotoran yang setiap saat bisa keluar (tidak ada perasaan ingin buang kotoran dan tidak dapat menahan jika pas ada kotoran yang keluar). Kolostomi tersebut harus selalu dibersihkan jika tidak ingin muncul jamur, infeksi dan efek lain dari bakteri yang keluar bersamaan dengan kotoran. Tak terbayang betapa repotnya perawatan yang harus dilakukan.
Walaupun sudah panjang lebar, namun konsultasi tersebut belum dapat meyakinkan saya 100% untuk mengambil langkah operasi. Bahkan semakin membuat saya bingung. Setelah sholat dhuhur, saya kembali bangsal. Di sana saya diberitahu bahwa pendaftaran operasi paling lambat jam 01.00. Tinggal 10 menit lagi. Semakin paniklah saya. Saya kembali ke kamar perawatan dan meminta pertimbangan istri. Mengingat ini satu-satunya jalan (menurut ilmu medis) untuk menyembuhkan anak saya, akhirnya saya dan istri sepakat untuk menempuh jalur operasi.

Kami hanya berdoa semoga keputusan kami adalah keputusan yang terbaik bagi anak kami.
Semoga Allah selalu memberikan kekuatan dan perlindungan kepadamu anakku.
Berlanjut…

Iklan