Anfauhum Linnas, adalah nama yang kami berikan untuk titipan Allah berupa seorang anak laki-laki yang lahir tiga tahun yang lalu (juli 2014). Dengan harapan semoga kelak menjadi seorang yang bermanfaat bagi manusia lain. Lahir dalam suasana ramadhan menjelang hari raya idul fitri. Proses kelahirannya dilakukan secara normal (Alhamdulillah).

Sebagai orang tua yang baru mempunyai anak pertama, kami seringkali panik saat mengurus anak kami, maupun saat menjalani proses pemulihan istri. Alhamdulillah perkembangan dan pertumbuhan bayi menunjukkan bahwa bayi dalam keadaan sehat. Kami selaku orang tua (yang masih belajar mengasuh anak) selalu mengikuti prosedur kesehatan yang dianjurkan oleh Bidan. Kami rutin melakukan pemeriksaan bayi, pemberian vaksin, dan prosedur lainnya. Jika ada masalah dengan anak kami, kami segera menkonsultasikannya dengan bidan, dokter maupun orang-orang disekitar kami. Seperti ketika kulit anak kami terlihat seperti kekuning-kuningan pada saat umur bayi baru sekitar satu bulan. Kami ikuti saran orang-orang terdekat untuk menjemur bayi pada pagi hari. Setelah beberapa hari dijemur, kulit anak kami masih terlihat kuning. Kami mulai panik. Kami coba konsultasi ke bidan yang membantu persalinan, katanya gak apa-apa. Itu wajar. Kami belum puas. Kami bawa ke dokter anak. Dan dokter anak bilang, bahwa anak kami tidak mengalami penyakit kuning seperti yang saya khawatirkan. Dokter hanya bilang bahwa ada masalah pencernaan pada anak kami kemudian memberikan beberapa resep obat untuk pencernaan anak kami. Kamipun pulang dengan perasaan lega.

Pertumbuhan dan perkembangan anak kami selanjutnya terpantau sehat dan normal. Kami memutuskan untuk memberikan ASI eksklusif bagi anak kami. Enam bulan pertama, akan kami hanya mengkonsumsi ASI. Pun begitu setelah umur enam bulan, ASI tetap jadi makanan nomor satu anak kami, selain makanan lain yang mulai diberikan. Kami bercita-cita memberikan ASI sampai umur dua tahun.

Cita-cita tersebut sedikit mengalami kendala ketika gigi-gigi anak kami mulai tumbuh. Seiring bertambah banyaknya gigi, dia mulai belajar menggigit apapun yang masuk ke mulutnya. Termasuk puting ibunya saat memberikan ASI. Mulanya tidak begitu menimbulkan masalah, hanya sedikit lecet (walaupun tetap menyakitkan). Namun lambat laun luka yang timbul semakin lebar dan menimbulkan rasa sakit yang parah. Itu terlihat dari ekspresi istri saya saat memulai menyusui anaknya. Meringis, menahan rasa perih saat luka yang yang masih menganga harus basah oleh air liur sang anak. Lebih sakit lagi saat anak kami mulai menggigit lagi. Pada saat itu, saat anak kami merengek meminta susu, maka pilihan bagi saya ada dua, yaitu melihat anak saya menangis karena haus atau menyaksikan istri saya yang menangis menahan sakit.
Setelah beberapa kali berobat ke bidan dan belum juga sembuh, kami mencoba periksa ke dokter praktek. Dokter kemudian menyarankan untuk menghentikan sementara proses pemberian ASI karena luka pada puting saya sudah mendekati setengah lingkaran. Jika diteruskan maka dikhawatirkan luka tersebut sulit untuk sembuh bahkan lukanya semakin melebar hingga kemungkinan terburuknya adalah putingnya putus. Hah, ngeri juga mendengar pernyataan dokter tersebut. Akhirnya kami memutuskan menghentikan sementara pemberian ASI untuk anak kami. Saat itu usia anak kami sekitar 13-14 bulan.

Sebagai gantinya, kami mulai mencoba memberikan susu formula yang banyak beredar di pasaran.
Anak kamipun mulai beradaptasi dengan susu formula. Dan kelihatannya dia baik-baik saja dan menikmatinya. Sampai suatu saat anak kami mengalami gangguan pencernaan. Anak kami mencret. Dan saat diberikan makanan atau susu, malah muntah semuanya. Kami memeriksakannya ke dokter terdekat. Namun, kondisi anak kami tidak semakin membaik. Mukanya terlihat pucat, sayu dan matanya kosong. Kami memeriksakannya lagi ke dokter. Dan dokter masih menganggap bahwa anak kami masih dalam keadaan baik-baik saja. Dia hanya berpesan jika anak kami terlihat dehidrasi parah (ditandai dengan kulitnya yang kurang lagi elastis saat ditekan dengan jari) maka kami harus membawa ke rumah sakit. Kamipun pulang. Namun saat mulai siang, anak kami muntah dan terlihat sangat lemas. Tak tega, kamipun membawa ke rumah sakit lewat IGD. Pihak rumah sakit memutuskan untuk opname. Lima hari dirawat dirumah sakit, Alhamdulillah anak kami kembali sehat dan diperbolehkan pulang. Namun, kami belum tahu apa yang menjadi penyebab diare dan muntah tersebut. Dokter hanya bilang bahwa anak kami mengalami desentri. Kesimpulan tersebut diambil berdasarkan adanya lendir pada BAB anak kami.
Hingga beberapa minggu setelah pulang dari rumah sakit, ketika anak kami minum susu, BABnya terlihat encer seperti diare. Kami mengambil kesimpulan bahwa anak kami alergi susu sapi.

Kami memutuskan kembali memberikan ASI kepada anak kami. Kebetulan kondisi puting istri saya sudah pulih. Disamping itu kami juga mencoba memberikan susu Soya.
Alhamdulilah kami bisa memberikan ASI sampai umur dua tahun (walaupun harus jeda sebentar karena luka pada puting sang Ibu).

Semoga Allah selalu memberikan kekuatan dan perlindungan kepadamu anakku.
Berlanjut….

Iklan