Anomali pola hidup yang berlangsung sekali setiap tahunnya terlewat sudah. Diawali dengan munculnya iklan sirup dan obat maag di stasiun televisi, diikuti dengan melonjaknya harga pangan,  dan masuklah kita (umat muslim) ke dalam bulan yang penuh berkah. Bulan dimana umat muslim menjalankan puasa sebulan penuh. Bulan dimana frekuensi ibadah seorang muslim cenderung meningkat. Pada bulan tersebut, terjadi perubahan pola hidup sebagian besar umat muslim. Pola ibadah yang meningkat, pola tidur yang cenderung berkurang, dan terutama pola makan. Perubahan pola makan berbeda2 pada satu orang dan yang lain. Ada yang mengurangi porsi makan (sesuai dengan makna shaum/menahan), ada yang sekedar mengganti waktu makan, adapula yang tanpa disadari malah bertambah porsi makannya.

Menjelang berakhirnya bulan ramadhan, kekhusyukan beribadah berubah menjadi keriuhan dalam mempersiapkan lebaran dengan segala bumbu-bumbunya. Mulai dari baju lebaran, makanan lebaran, persiapan mudik ke kampung halaman, mempersiapkan THR, membuat petasan dll, dsb, dst.

salamanSetelah lulus ujian (berupa berpuasa selama sebulan), kaum muslim dijanjikan pengampunan oleh Allah SWT. Ampunan tersebut diberikan untuk dosa yang langsung berhubungan dengan sang pencipta (tentu sesuai hak prerogasiNya). Adapun dosa yang berhubungan dengan sesama manusia, harus mendapatkan ampunan (maaf) dari manusia yang bersangkutan. Maka pada saat lebaran, biasanya sesama muslim saling meminta maaf dan saling memaafkan. Sanak saudara dan handai taulan saling bersilaturahim dan saling memaafkan. Begitu juga dengan tetangga, rekan kerja dan semua yang kita kenal, saling memaafkan. Masalah tulus atau sekedar basa-basi, itu urusan lain. Yang penting saling bermaaf-maafan.

Tak hanya di dunia nyata, di dunia gaib masa kini (media sosial) pun tak mau kalah. Puisi-puisi lebaran bersahutan. Semua seakan berlomba untuk meminta maaf.

Namun, ada satu hal yang saya tunggu2 kehadirannya pada lebaran kali ini. Bukan baju baru, rumah baru ataupun kendaraan baru. Yang saya tunggu adalah kemunculan berita yang menayangkan acara saling meminta maaf antar kelompok/golongan, terutama golongan yang sebelumnya saling berseberangan. Berseberangan paham, aliran atau apapun itu yang menjurus pada percekcokan verbal maupun tulisan di lini masa.  Perdebatan yang sepertinya tak akan bisa selesai. Karena memang prinsip dasarnya berbeda. Semua diperdebatkan, dari masalah yang besar sampai hal-hal sepele. Semua hal diangkat agar bisa diperdebatkan. Sepertinya spirit debatnya bukan lagi untuk mencari persamaan dan mencari jalan tengah. Akan tetapi lebih menjurus kepada memenangkan pendapat yang “asal berbeda”. Jika kelompok 1 berargumen A maka kelompok 2 harus berargumen B. Begitu seterusnya.

Hal ini menyebabkan iklim beragama menjadi gaduh. Ketenangan yang notabene merupakan salah satu tujuan beragama menjadi semakin jauh untuk dicapai. Yang menjadi korban tentunya orang-orang awam seperti saya ini. Yang tak tau mana yang benar dan mana yang salah. Semua berpegang pada kebenaran masing-masing. Akhirnya kami hanya bisa menyimpulkan bahwa kami tak peduli mana yang benar. Semua serba membingungkan. Yang kami perlukan hanya ketenangan. Tolong hentikan keributan dan mari saling bersalaman.

Momen lebaran mungkin jadi waktu yang tepat untuk mencoba duduk bersama, sekedar saling minta maaf dan saling memaafkan atas apa yang terjadi selama inil. Perbedaan boleh tetap ada. Tapi persaudaraan atas iman harus tetap dinomor satukan. Alangkah indahnya iklim beragama jika bisa tercipta keadaan seperti itu. Mari berbeda dengan tetap bersaudara. 

Ahh,,,,, ternyata itu semua hanyalah “mimpi indah” saja. Dan saya harus segera terbangun, kemudian mandi junub dan melanjutkan kehidupan di dunia yang penuh dengan kebencian dan kemurkaan ini.

sumber gambar: http://www.4shared.com/photo/yOltlVAT/salaman.html

Iklan