Sandal merupakan barang yang berfungsi sebagai pakaian (kaki), pelindung kaki dari ancaman benda-benda tajam saat berjalan, yang juga berfungsi sebagai bagian dari fesyien. Bentuk dan model sandal sangat bervariasi tergantung kreatifitas dari sang pembuat. Bahan yang dibuatnya pun bermacam-macam. Mulai dari kulit (domba, sapi, ular, buaya dll selain kulit pisang,, hehe), kulit sintetis, kain, kayu, karet sintetis dan banyak lagi yang lainnya.

Sandal Ban.jpgAda satu sandal yang menarik perhatian saya selama beberapa tahun terakhir ini (walaupun sandal yang lain juga punya), yaitu sandal yang terbuat dari bahan ban bekas. Istilah kerennya Sandal NeckerBan. Sekitar lima tahun yang lalu, saya belum tahu tempat penjual sandal ban di daerah saya. Waktu itu saya sampai kesana kemari mencari penjual sandal ban. Akhirnya nemu pedagang kaki lima di pinggiran alun-alun (pas ada acara di alun-alun) yang jualan sandal ban.

Beberapa bulan yang lalu saya kembali mencari penjual sandal ban. Dan ternyata, di pasar tradisional di kota saya banyak yang jualan. Hah,,,,

Ada beberapa hal yang menjadi nilai tambah dari sandal tersebut.

Beberapa nilai tambah Sandal NeckerBan:

  • Sederhana

Sandal ini memberikan kesan sederhana bagi si pemakai. Ya jelas lah,,, harganya murah dan jauh dari kesan mewah. Kecuali kalo bahan sandal tersebut dari ban kereta api. Apalagi ban tank tempur. Haha,,, berat kaleeee….

  • Produk lokal

Jika anda merupakan seorang yang Cinta Indonesia, mencintai produk lokal (khususnya UMKM) tentunya sandal ban menjadi pilihan yang tepat. Hampir pasti sandal ban diproduksi oleh orang di sekitar kita (paling jauh mungkin dari tetangga kota), selama ini belum pernah saya menemukan sandal ban Made in China, apalagi Made in Germany. hehe,,,, Selain itu, sandal ban juga hampir pasti dibuat oleh pengusaha dalam skala rumahan (home industri). Selama ini pula saya belum pernah menemukan pabrik (dalam skala PT.) yang memproduksi sandal ban, atau saya juga belum pernah menemukan sandal ban dengan merk tertentu yang terstandarisasi.

Dengan membeli produk-produk dari UMKM, berarti kita ikut menumbuh kembangakan usaha mereka. Bayangkan jika mereka saudara-saudara atau tetangga kita (para pengusaha rumahan) sudah berjuang bersusah payah memproduksi barang dengan jumlah yang banyak, tetapi ternyata tidak laku di pasaran. Kira-kira lama kelamaan mereka akan bangkrut to… Kalau usaha mereka bangkrut, hilanglah mata pencaharian mereka. Nasib keluarganya bagaimana coba….

  • Tersedia di Pasar Tradisional

Sandal yang satu ini kayaknya ga bakal sampai di etalase toko sepatu ternama, apalagi di mall, Jauh…… Yang ada ya paling di pasar tradisional atau di pedagang kaki lima.

Spiritnya sama dengan yang diatas (produk lokal). Dengan nglarisi (membeli) dagangan dari para pedagang kecil, berarti memberikan keuntungan atas barang tersebut kepada pedagang kecil. Itu berarti pula memberikan andil atas keberlangsungan jual-beli mereka. Kembali bayangkan jika seorang pedagang kecil (dengan dagangan yang seadanya), setelah modalnya habis untuk membeli dagangan, biaya transportasi dan menyewa lapak, ternyata dagangannya tak kunjung laku. Lama-lama bangkrut juga kan? Nasib keluarganya bagaimana???

  • Ramah Lingkungan

Sandal ini bisa dikategorikan sebagai barang produksi yang ramah lingkungan. Alasannya antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Dibuat dari bahan bekas (sampah)

    Ban bekas merupakan sampah masuk dalam kategori sampah non-organik. Sampah jenis ini tidak dapat langsung terurai oleh bakteri. Butuh waktu yang lama untuk dapat mengurainya secara tuntas. Sebagai alternatif solusinya, biasanya kita mengenal istilah Reduce, ReUse dan Recycle. Nah, untuk ban bekas ini sepertinya Recycle menjadi langkah yang tepat. Ban bekas dapat di daur ulang menjadi barang-barang yang berguna. Misalnya, tempat sampah, mainan anak, ayunan, kursim, dan termasuk didalamnya adalah sandal ban.

    Jadi, menggunakan sandal ban, merupakan salah satu tindakan mengurangi volume sampah yang ada di bumi. Walaupun toh nantinya jadi sampah juga, setidaknya kita bisa mengulur waktu sampai benda tersebut benar-benar tidak bisa digunakan.

  2. Minim Carbon FootPrint

    Produk lokal dinilai lebih ramah lingkungan daripada produk luar. Hal ini dilihat dari sisi karbon dioksida yang dihasilkan dari proses distribusi barang tersebut atau yang dikenal dengan istilah Carbon Footprint.  Barang yang dihasilkan dari tetangga kita, hanya membutuhkan sedikit (atau bahkan tidak membutuhkan sama sekali) bahan bakar (yang menghasilkan karbon dioksida) untuk mendistribusikan sampai ke kita. Barang yang dihasilkan dari luar kota, membutuhkan lebih banyak (dibanding dari tetangga kita) bahan bakar untuk sampai ke konsumen (kita).  Begitu seterusnya, semakin jauh asal dari suatu benda, maka akan semakin banyak pula karbon dioksida yang dihasilkan dari proses distribusinya. Sebagaimana kita tahu, salah satu faktor utama pemanasan global yang terjadi saat ini adalah banyaknya karbon dioksida yang dihasilkan oleh pola hidup manusia modern.

Nah pada akhirnya, kita semua bebas untuk memilih pola hidup (termasuk di dalamnya memilih sandal,,, hehe) sesuai dengan kemerdekaan kita masing-masing. Akan tetapi, yang perlu diingat adalah bahwa semua pilihan mempunyai akibat (baik pada diri kita, orang disekitar kita, maupun lingkungan). Untuk itu, bijaklah dalam memilih.

Salam.,,,,,,,

Iklan