Salah satu makanan sehat, berkhasiat, lagi lezat untuk dimakan adalah ikan. Dimasak apapun, goreng, pepes, mangut (dan ini merupakan masakan ikan favorit saya), atau masakan yang lainnya (maafkan saya yang ga paham dengan nama-nama masakan 😐 ), ikan akan tetap terasa enak. Disamping itu ikan merupakan sumber protein yang baik bagi tubuh manusia. Ikan kaya akan kandungan nutrisi yang baik bagi kesehatan, antara lain: Asam lemak Omega-3, Vitamin : D dan B2 (riboflavin), Kalsium, Fosfor, Mineral : zat besi, seng, yodium, magnesium, dan kalium. (sumber: http://manfaat.co.id/16-manfaat-ikan-bagi-kesehatan-manusia)

Namun, dibalik manfaat yang begitu banyak dari ikan, terselip sesuatu yang “menyakitkan” dari dalam tubuh ikan. Yap, benar. Itulah duri ikan. Kecil, tapi tajam. Kalau si kecil nanputih ini ikut masuk kedalam mulut kita, siap-siaplah merasakan betapa nyerinya tertusuk duri. Apalagi kalo sampai menusuk hati. Seperti potongan bait lagu berikut:

dduri“Luka hatiku terasa nyeri tertusuk duri

Apakah daya semua ini telah terjadi”

Rafika Duri-Hati Tertusuk Duri.

(sumber: http://liriklagukenangan.blogspot.co.id/2012/09/rafika-duri-hati-tertusuk-duri.html )

Sumber gambar: https://pixabay.com/static/uploads/photo/2014/04/03/00/38/fish-308927_960_720.png

Kembali ke topik. Ketajaman duri dapat menusuk bagian mana saja yang dilalui makanan. Mulai dari bibir, lidah, sela-sela gigi, tenggorokan sampai kebagian bawah. Bagian yang sering dikeluhkan banyak orang adalah ketika duri nyangkut di tenggorokan dengan posisi menusuk ke bawah. Mau ditelen nyangkut, mau di keluarkan ga bisa. Rasanya sudah ngejubileh sakitnya. Walopun sakitnya minta ampun, namun ini masih dalam level biasa saja alias mainstream. Sebagai seorang yang sok antimainstream, saya pernah mengalami hal yang mungkin tak pernah terbayang oleh anda.

Pernah membayangkan yang terjadi ketika duri tersebut masuk ke dalam perut, diaduk-aduk oleh lambung dan perangkat canggih lainnya dalam perut, tapi tetap saja ga ikut hancur? Malah terus melaju tanpa rintangan menuju usus besar, bercampur dengan sisa-sisa pencernaan ikut ke bagian pembuangan? Kalau langsung keluar sih tak jadi masalah. Yang jadi masalah adalah ketika duri yang jadi satu dengan sisa hasil usaha (eh,,, pembuangan) sudah muntup-muntup alias hampir keluar, akan tetapi ga jadi keluar karena nyangkut. Posisinyapun malang (mendatar/horizontal). Sialnya lagi, itu terjadi di periode akhir pembuangan, sehingga daya dorong dari dalam usus sudah sedemikian lemah. Bahkan ngedenpun tak mampu mengeluarkan kotoran bercampur “benda asing” tersebut. Betul-betul posisi yang serba salah. Ngeden ga keluar, mau berdiri dan menyudahi ritual buang sial ga bisa. Ga bisa karena duri tadi menusuk tebing kiri dan kanan. Ahhhh,,,,,, betapa nyerinya.

Dalam kondisi seperti itu, saya setidaknya mempunyai 3 opsi solusi. Antara lain:

  1. Manggil orang disekitar untuk menolong (dengan menahan rasa malu yang teramat sangat besar)
  2. Manggil orang disekitar untuk mengantar ke dokter (dengan menahan rasa malu and nyeri selama perjalanan)
  3. Do It Yourself (DIY) dengan mengeluarkan penyakitnya secara mandiri (dengan menahan rasa “jijik”).

Setelah beberapa saat memikirkan solusi tersebut sambil menahan nyeri yang tak terperi, saya berkesimpulan bahwa sudah saatnya harus menentukan aksi. Dan akhirnya dengan penuh keterpakasaan (layaknya Siti Nurbaya saat menerima pinangan Datuk Maringgih) saya menentukan aksi dengan memilih opsi ke 3. Mencari-cari dengan sedikit Hiiiiiiii…. akhirnya durinya bisa dikeluarkan. Dan segera setelah itu, jari ku kipat-kipatkan dan kusiram dengan air sebanyak-banyaknya. Tanpa pernah terpikir untuk mengambil foto dari apa yang aku Download alias Unduh dari anuku (sorry ya…. bukan alay) hehe,,,, Setelah itu segera kubersihkan semuanya dan lekas bergegas (dengan sedikit mekah-mekoh ) keluar kamar kecil sambil cengar cengir….

Hahhhhh…………

Iklan