Saat kita menghadiri pengajian yang membahas tentang puasa, biasanya sang penceramah mengatakan bahwa puasa (arab: ash-shaum) berarti menahan. menahan dalam puasa berarti menahan diri dari nafsu (makan, minum, menggauli istri dan perkara-perkara yang membatalkan puasa) mulai dari saat fajar menyingsing hingga saat terbenamnya matahari. Jadi jika kita berniat puasa, kemudian menahan diri dari makan, minum, menggauli istri dan perkara-perkara yang membatalkan puasa mulai dari fajar menyingsing sampai saat terbenam matahai, maka puasa kita sah secara syariat.

pasar takjilNah, apakah proses menahan nafsu itu hanya berhenti sampai disitu? Jika kita melihat ayat tentang perintah puasa (Al Baqoroh ayat 183) dalam akhir ayat disebutkan (لعلّكم تتّقون) yang dalam Terjemah Alquran dari Depag berarti “agar kamu bertaqwa”. Mungkin, itulah tujuan dari puasa. Yaitu membentuk manusia bertaqwa. Tentunya proses pembentukan manusia bertaqwa tersebut tidak secara instan. Artinya bukan berarti jika kita dapat menyelesaikan ibadah puasa selama sebulan penuh, maka kita akan serta merta masuk ke dalam kategori manusia bertaqwa. Tujuan puasa akan tercapai ketika kita berusaha mempraktekkan kata “menahan” ke dalam perilaku hidup kita. Pada saat puasa maupun tidak.

Ritual puasa yang diwajibkan selama sebulan setiap tahunnya (yaitu pada bulan ramadhan) adalah sarana melatih diri dan jiwa kita untuk menahan, menahan diri dari nafsu. Nafsu bisa dibagi dalam dua kelompok. Nafsu lahiriah antara lain makan, minum, menggauli istri, dan segala sesuatu yang bertujuan untuk memuaskan nafsu. Dan nafsu batiniah antara lain hasut, iri, dengki, takabur dll, dan mungkin nafsu manusia masa kini yaitu sifat konsumerism masuk di dalamnya.

Sekarang, mari kita lihat puasa kita (termasuk saya), kebiasaan kita dan apa yang terjadi di sekitar kita. Menjelang bulan ramadhan, harga-harga naik. Terutama harga kebutuhan pokok (sembako). Menjelang hari raya juga begitu. Menurut prinsip ekonomi (kalau tidak salah), harga akan naik jika permintaan naik. Untuk sementara kita nafikan terlebih dahulu adanya faktor pedagang-pedagang nakal yang menimbun barang untuk mempermainkan harga.

Apa hubungan antara prinsip ekonomi dengan kenaikan harga menjelang ramadhan dan hari raya? Mari kita lihat kebiasaan kita pada saat bulan ramadhan dan hari raya.

Pada saat kita sahur (persiapan menghadapi puasa), kita cenderung menaikkan kualitas makanan yang dihidangkan dibandingkan dengan hari-hari biasa dengan mengkonsumsi daging (padahal biasanya cukup hanya dengan tempe), meminum susu dan sebagainya. Kita berdalih untuk menjaga stamina dan menjaga kesehatan bada selama kita menjalankan puasa (memangnya puasa membuat kita gak sehat?). Disamping itu untuk merangsang kita saat menyantap sahur karena biasanya makan pada jam-jam segitu terasa berat dan malas.

Pada saat menjelang buka puasa juga relatif hampir sama. Kita cenderung menyiapkan hidangan yang banyak, enak dan mengundang selera. Padahal ketika tiba waktu buka puasa, tidak semua makanan tersebut masuk ke perut kita. Kebutuhan tubuh kita untuk memulihkan kebugaran tidak sebanding dengan apa yang kita persiapkan. Ini terjadi di sebagian besar dari kita semua. Dibuktikan dengan bermunculannya pasar dan pedagang dadakan pada waktu menjelang buka puasa di hampir semua sudut kota di Indonesia (tentunya yang mayoritas beragama Islam). Tentunya mereka terdorong untuk menjajakan makanan karena melihat kecenderungan kita yang menjadi konsumeris pada saat menjelang buka puasa.

belanja pakaianMenjelang hari raya juga relatif sama. Kita berlomba untuk membeli pakaian baru untuk menyambut hari kemenangan. Padahal kalau kita telaah, kita disunnahkan untuk menghormati hari raya dengan mengenakan pakaian yang paling baru. Bukan berarti kita harus membeli pakaian baru setiap menjelang hari raya, akan tetapi, pakaian yang paling baru (walaupun di beli tiga tahun yang lalu).

Sifat-sifat konsumerism kita itulah yang “mungkin” menjadi-salah satu-penyebab melonjaknya harga-harga barang saat bulan ramadhan dan menjelang hari raya.

Apakah hal-hal tersebut diatas dilarang? Apakah hal-hal tersebut diharamkan? Tentunya tidak. Boleh-boleh saja. Akan tetapi coba kita renungkan, saat kita melaksanakan ibadah puasa, hal-hal yang sebenarnya halal pada saat tidak melaksanakan puasa (seperti makan, minum, menggauli istri dll), dilarang untuk dilakukan. Bukan berarti hal tersebut diharamkan dan dilarang secara permanen, tetapi ditahan untuk sementara.

Alangkah lebih baik jika kita berusaha meningkatkan kualitas ibadah kita. Puasa yang kita lakukan bukan lagi sekedar ritual, akan tetapi menjadi sarana latihan kita untuk menahan diri dari nafsu (bentuk apapun itu), Termasuk nafsu Konsumerism. Kita konsumsi yang biasa kita konsumsi saja. Puasa dijadikan ajang untuk melatih hidup secara sederhana. Dan yang terpenting adalah niat kita puasa untuk satu tujuan yaitu mengharapkan Ridho Allah SWT.

 

* Maaf tidak mencantumkan sumber-sumber dan dalil-dalilnya. Serta tidak menyertakan data-data hasil penelitian yang valid. Hanya sekedar berdasar atas renungan (lebih tepatnya mengira-ngira) pada apa yang terjadi pada diri sendiri dan melihat kesamaan kejadian pada lingkungan.

Sumber Gambar:

http://cdn.sindonews.com/dyn/620/content/2014/06/12/34/872799/xxFH7XUR4C.jpg

http://statik.tempo.co/?id=45670&width=475

 

 

Magelang, 28 Juni 2014

Kharis

Iklan