Hujan

Hujan tadi sore mengikis kekhawatiranku (yang trasa agak berlebihan) bahwa akan terjadi kemarau panjang ditahun ini sebagai bentuk dari apa yang saya sebut dengan “Balas Dendam Musim”. Kemarau yang pada tahun kemarin tak mendapatkn jatah, karena praktis selama setahun penuh hujan mengguyur bumi, cukup menghadirkan kekhawatiran tatkala  musim kemarau tiba (beberapa pekan lalu) , akan membayarnya dengan mengeringkan bumi selama setahun juga.

Sepertinya kekhawatiran diatas cenderung berlebihan, tak cukup beralasan, dan tak mendapatkan sokongan bukti-bukti untuk menunjang hipotesa yang masih terlalu dangkal tersebut. Akan tetapi, jika kita menengok keadaan cuaca/musim pada beberapa tahun belakangan ini, dimana cuaca yang dulunya stabil dan dapat diprediksi menjadi kacau dan tak dapat diperkirakan, curah hujan yang tak menentu (terkadang musim hujan panjang, namun di lain waktu, musim hujan pendek akan tetapi dengan curah hujan yang tinggi yang kemudian menyebabkan kerusakan dimana-mana), kekhawatiran diatas menjadi mungkin (bukan berarti berharap) terjadi. Smoga takkan terjadi.

Kegonjang-ganjingan cuaca seperti disebut pada paragraf diatas oleh para pemerhati lingkungan biasa diistilahkan dengan “Climate Change” atau yang bisa diterjemahkan sebagai “Perubahan Cuaca”. Perubahan ini bukanlah sebuah sebab. Melainkan akibat beruntun dari efek Pemanasan Global (Global Warming), sedangkan Global Warming juga merupakan akibat dari terjebaknya radiasi sinar matahari oleh Efek Rumah Kaca (Green House) di lapisan atmosfer bumi. Green House terbentuk oleh gas-gas emitan yang dihasilkan oleh “Aktifitas Manusia” yang tidak ramah lingkungan. (Tulisan yang lebih lengkap menyusul).

Nah, setelah menelusuri sebab-sebab terjadinya perubahan (atau mungkin bisa disebut kerusakan) cuaca tersebut, ternyata pangkal permasalahannya adalah ulah manusia sendiri. Padahal manusia sudah dibekali dengan pengetahuan, budaya yang paling tidak bisa memperkirakan akibat dari tindakan yang akan diperbuat dan kemudian menyaring perbuatan mana yang berakibat baik dan yang buruk.

Tidak cukup hanya itu, dalam ajaran agama pun terdapat ajaran-ajaran kebajikan untuk memelihara lingkungan. Peringatan bahwa kerusakan bumi disebabkan oleh manusia telah tercantum dalam Al Quran (bagi kaum muslim) yang menyebutkan:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ  — الروم:٤١

Yang artinya kurang lebih: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya mereka merasakan sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (Ar Rum : 41)

Padahal pada ayat yang lain sudah diperingatkan:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ    —الأعرف: ٥٦

Yang artinya kurang lebih: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al A’raf : 56)

Melihat kenyataan tersebut, marilah kita berkaca, apakah tindakan-tindakan kita selama ini sudah cukup memperhatikan keberlangungan kehidupan di muka bumi ini untuk masa yang akan datang??? Atau malah perbuatan kita memberi andil dalam memperpendek usia bumi, atau setidaknya mengurangi kenyamanan bumi sebagai tempat tinggal kita????

Magelang, 28 Juli 2011

Kharis Al Faqier

Iklan