Hari ini (20 Mei 2011) diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional oleh rakyat Indonesia. Mengapa??? Coba kita simak uraian dari wikipedia berikut ini:

 

Kebangkitan Nasional adalah Masa dimana Bangkitnya Rasa dan Semangat Persatuan, Kesatuan, dan Nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaanRepublik Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan Belanda dan Jepang. Masa ini ditandai dengan dua peristiwa penting yaitu berdirinya Boedi Oetomo (20 Mei 1908) dan ikrar Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928). Masa ini merupakan salah satu dampak politik etis yang mulai diperjuangkan sejak masa Multatuli.

Tokoh-Tokoh

Tokoh-tokoh yang mempolopori Kebangkitan Nasional, antara lain yaitu :

  1. Sutomo
  2. Gunawan
  3. Dr. Tjipto Mangunkusumo
  4. Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EYD: Suwardi Suryaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hajar Dewantara)
  5. dr. Douwes Dekker dan Lain-Lain

Asal Usul Kebangkitan Nasional

Selanjutnya pada 1912 berdirilah Partai Politik pertama Indische Partij. Pada tahun ini juga Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam (Solo), KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah (Yogyakarta) dan Dwijo Sewoyo dan kawan-kawan mendirikan Asuransi Jiwa Bersama Boemi Poetra di Magelang. Kebangkitan pergerakan nasional Indonesia bukan berawal dari berdirinya Boedi Oetomo, tapi diawalai dengan berdirinya Sarekat Dagang Islam pada tahun 1905 di Pasar Laweyan, Solo. Sarekat ini awalnya berdiri untuk menandingi dominasi pedagang Cina pada waktu itu.Kemudian berkembang menjadi organisasi pergerakan sehingga pada tahun 1906 berubah nama menjadi Sarekat Islam.

Suwardi Suryaningrat yang tergabung dalam Komite Boemi Poetera, menulis Als ik eens Nederlander was (Seandainya aku orang Belanda), 20 Juli 1913 yang memprotes keras rencana pemerintah Hindia Belanda merayakan 100 tahun kemerdekaan Belanda di Hindia Belanda. Karena tulisan inilah dr. Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat dihukum dan diasingkan ke Banda dan Bangka, tetapi karena “boleh memilih”, keduanya dibuang ke Negeri Belanda. Di sana Suwardi justru belajar ilmu pendidikan dan dr. Tjipto karena sakit dipulangkan ke Hindia Belanda.

Saat ini, Tanggal berdirinya Boedi Oetomo, 20 Mei, dijadikan sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Dari ulasan diatas, kemudian ada yang mempertanyakan mengapa malah kelahiran organisasi Boedi Oetomo yang dijadikan Hari Kebangkitan Nasional? Padahal sudah ada organisasi yang mendahuluinya? Simaklah artikel yang mempertanyakan peringatan Hari Kebangkitan Nasional berikut ini:

20 Mei Bukan Hari Kebangkitan Nasional

Kelahiran organisasi Boedhi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 sesungguhnya amat tidak patut dan tidak pantas diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, karena organisasi ini mendukung penjajahan Belanda, sama sekali tidak pernah mencita- citakan Indonesia merdeka, a-nasionalis, anti agama, dan bahkan sejumlah tokohnya merupakan anggota Freemasonry Belanda (Vritmejselareen).

Dipilihnya tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, sesungguhnya merupakan suatu penghinaan terhadap esensi perjuangan merebut kemerdekaan yang diawali oleh tokoh-tokoh Islam yang dilakukan oleh para penguasa sekular. Karena organisasi Syarikat Islam (SI) yang lahir terlebih dahulu dari Boedhi Oetomo (BO), yakni pada tahun 1905, yang jelas-jelas bersifat nasionalis, menentang penjajah Belanda, dan mencita-citakan Indonesia merdeka, tidak dijadikan tonggak kebangkitan nasional.

Tiga tahun sebelum BO dibentuk, Haji Samanhudi dan kawan-kawan mendirikan Syarikat Islam (SI, awalnya Syarikat Dagang Islam, SDI) di Solo pada tanggal 16 Oktober 1905. Berbeda dengan BO yang hanya memperjuangkan nasib orang Jawa dan Madura—juga hanya menerima keanggotaan orang Jawa dan Madura, sehingga para pengurusnya pun hanya terdiri dari orang-orang Jawa dan Madura—sifat SI lebih nasionalis. Keanggotaan SI terbuka bagi semua rakyat Indonesia yang mayoritas Islam. Sebab itu, susunan para pengurusnya pun terdiri dari berbagai macam suku seperti: Haji Samanhudi dan HOS. Tjokroaminoto berasal dari Jawa Tengah dan Timur, Agus Salim dan Abdoel Moeis dari Sumatera Barat, dan AM. Sangaji dari Maluku.

Hari Kebangkitan Nasional yang sejak tahun 1948 kadung diperingati setiap tanggal 20 Mei sepanjang tahun, seharusnya dihapus dan digantikan dengan tanggal 16 Oktober, hari berdirinya Syarikat Islam. Hari Kebangkitan Nasional Indonesia seharusnya diperingati tiap tanggal 16 Oktober, bukan 20 Mei. Tidak ada alasan apa pun yang masuk akal dan logis untuk menolak hal ini.

Jika kesalahan tersebut masih saja dilakukan, bahkan dilestarikan, maka saya khawatir bahwa jangan-jangan kesalahan tersebut disengaja. Saya juga khawatir, jangan-jangan kesengajaan tersebut dilakukan oleh para pejabat bangsa ini yang sesungguhnya anti Islam dan a-historis. Jika keledai saja tidak terperosok ke lubang yang sama hingga dua kali, maka sebagai bangsa yang besar, bangsa Indonesia seharusnya mulai hari ini juga menghapus tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, dan melingkari besar-besar tanggal 16 Oktober dengan spidol merah dengan catatan “Hari Kebangkitan Nasional”. (Tamat/Rizki Ridyasmara)

Pokoké “Bangkit”

Bangkit  Indonesia

Bagi saya yang tidak begitu paham dengan sejarah, mau tanggal 20 Mei (berdirinya Boedi Oetomo), 16 Oktober (Lahirnya Syarikat Islam) atau malah mau 29 Sept (tanggal lahir si penulis 🙂 ) yang dijadikan Hari Kebangkitan Nasional, tak begitu masalah. Biarlah ahli sejarah yang mencari kebenarannya. Yang penting kita sebagai rakyat Indonesia “Harus Bangkit”.

Hari ini, sudah lebih dari satu abad (mulai dari tahun 1908 maupun dari tahun 1905) kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Namun “Apakah Indonesia sudah benar-benar berdiri kokoh????” Itu yang mungkin patut kita pertanyakan.

Indonesia dapat dikatakan berdiri kokoh jika sudah mencapai apa yang dicita-citakan oleh pendiri bangsa yang termaktub dalam Dasar Negara Indonesia yaitu Pancasila dan UUD 1945. Coba kita tengok kembali cita-cita bangsa Indonesia :

Yang tercantum pada Pancasila:

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

  • Apakah kita sebagai bangsa Indonesia sudah cukup mengakui adanya Tuhan????
  • Kalaupun sudah, apakah tingkah laku kita sudah mencerminkan pola hidup manusia yang ber-Tuhan?????
  • Masihkah agama dan Tuhan dijadikan alasan untuk berbuat kekerasan???

2. Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab

  • Apakah rakyat Indonesia sudah benar2 dimanusiakan dan merasa benar2 manusia????
  • Apakah budaya dan keseharian rakyat Indonesia sudah bisa dibilang sebagai budaya yang beradab????

3. Persatuan Indonesia

  • Apakah negara Indonesia sudah benar2 bersatu??? Atau masih ada yang ingin mendirikan negara dalam negara??? Mengapa????
  • Apakah wilayah kedaulatan Indonesia sudah benar2 terjaga dengan ketat????

4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat/Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan

  • Apakah Dewan yang terhormat yang ada di negri ini sudah cukup mewakili keinginan dan kebutuhan rakyat Indonesia????
  • Apakah para Dewan yang terhormat sudah menggunakan kebijaksanaan (akal sehat dan nurani mereka) dalam mengemban tugas mulia mereka sebagai wakil rakyat????

5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

  • Apakah penyelenggara negara ini sudah berpegang pada asas Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dalam memimpin negeri ini????
  • Apakah keadilan sudah merata bagi seluruh rakyat Indonesia?????
  • Apakah korupsi (yang menjauhkan kita dari keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia) sudah terberantas????
  • Apakah cukup adil jika para petinggi negri ini mendapatkan gaji yang fantastis, fasilitas yang mewah dan ternyata masih berkeinginan untuk menyejahterakan kehidupan mereka sendiri (misal: pembangunan gedung DPR yanga wah itu), sementara keadaan masyarakat masih sangat miskin???

Yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945:

1. Untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia:

  • Apakah rakyat Indonesia sudah benar2 terlindungi kehidupannya??? Bagaimana dengan para TKI yang katanya disebut sebagai “Pahlawan Devisa” akan tetapi nasibnya selalu tersia-siakan, babak belur dihajar oleh majikan mereka, bahkan ada yang sampai meninggal dunia. Seberapa besar perhatian penyelenggara negara ini akan nasib mereka????
  • Apakah keselamatan, kesehatan dan keamanan rakyat Indonesia sudah terjamin??? Bagaimana dengan kondisi sistem transportasi di negri ini, apakah sudah menjamin keselamatan para penumpangnya??? Seberapa besar jaminan bagi rakyat dalam hal kesehatan???
  • Apakah setiap wilayah Indonesia sudah benar2 terjaga dari jajahan negara tetangga??? Bagaimana sikap penyelenggara negara terhadap kedaulatan negara yang selalu terinjak2 ini????

2. Untuk memajukan kesejahteraan umum

  • Apakah rakyat Indonesia sudah menikmati kesejahteraan??? Atau mereka malah tidak tahu apa sebenarnya arti dari kata “kesejahteraan umum” tersebut???

3. Mencerdaskan kehidupan bangsa

  • Bagaimana keadaan pendidikan di negri ini???
  • Sudahkah rakyat Indonesia menikmati pendidikan yang tidak memberatkan????

4. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial

  • Bagaimana andil negri ini terhadap kemerdekaan dan perdamaian dunia???
  • Sudahkah negri ini ikut berpartisipasi dalam melawan penjajahan??? (misal: Palestina dll)

Melirik pada pertanyaan2 diatas, sepertinya kondisi Indonesia saat ini masih jauh dari kata “berdiri dengan kokoh”. Jauh dari apa yang dicita2kan para pendiri bangsa. Ternyata kita masih terduduk disudut jaman (kalau tidak mau dibilang tersungkur dan terjerembab). Suka atau tidak, itulah keadaan kita. Memang, tidak disemua sisi kita terbelakang. Akan tetapi, secara rata2 kita masih berada pada posisi “belum berhasil”.

Nah, melihat kenyataan seperti itu, bagaimana cara kita mengatasinya? Tentunya dengan 1 kata: “BANGKIT”. Bangkit dari penjajahan (baik penjajahan teritorial maupun penjajahan ekonomi, kebudayaan, dll dsb dst.), keterpurukan nasional, ketidak adilan, ketidak sejahteraan rakyat, dll. Dan itu berlaku bagi semua lini. Tidak berlaku secara parsial. Penyelenggara negara/pemerintah, wakil rakyat, dan rakyat itu sendiri semua harus bangkit.

Bagi pemerintah, mulailah untuk menjalankan roda pemerintahan yang bersih dari korupsi, kenalilah dan mengertilah akan kebutuhan rakyat, berdasar pada nurani dan memanusiakanlah kami sebagai rakyatmu.

Wakil rakyat, wakililah suara kami dengan tulus, bukan untuk menggapai kepentingan2 pribadimu dan golonganmu. Dan tak lupa, pakailah akal sehat dan nuranimu dalam mengembang tugas sebagai wakil dari kami.

Bagi saudara2ku sesama rakyat Indonesia, marilah kita mulai membangun kesadaran. Sadar bahwa kita adalah bagian dari bangsa yang besar ini. Maka, jangan sampai kita merusak atau bahkan meruntuhkan harkat dan martabat bangsa kita sendiri. Pinggirkan ego-pribadi dan ego-golongan kita. Lakukan yang terbaik untuk negri ini.

Tak perlu memulai dengan yang muluk2. Mulaialah dari yang kecil, mulailah dari diri sendiri.

BANGKIT INDONESIAKU…………!!!!!

Sumber:

Magelang, 20 Mei 2011

Kharis Alfaqier

Iklan