Habis Gelap Terbitlah Terang

Ketika saya (seorang laki2 bujang) sedang mencuci pakaian, atau sedang menjemur pakaian yang telah saya cuci, seringkali saya ditegur (atau sekedar sapaan guyon) oleh tetangga2 yang kebetulan lewat dengan teguran: “Makanya,,,,, cepet cari istri, biar ada yang nyuci….”

Mumpung hari ini pas tanggal 21 April 2011, dimana pada hari ini kita memperingati hari Kartini, coba kita kritisi ungkapan2 seperti diatas.

Dari teguran (guyonan) tersebut diatas, secara dangkal dapat kita simpulkan: sementara ini kita menganggap bahwa mencuci itu adalah pekerjaan istri. termasuk juga bikin kopi, masak, nguras bak mandi, nyapu2 dll. Apakah memang itu semua pekerjaan bagi para wanita???? Kalau memang begitu, apa bedanya kedudukan Istri dengan pembantu????

Begitu hinakah mereka???? tentunya tidak. Untuk itu mulai saat ini, Berhentilah berasumsi bahwa istri adalah tukang cuci. istri adalah pembuat kopi.

Tugas2 ato pekerjaan yang disebut diatas “bukan hanya pekerjaan untuk istri/wanita”. Tapi bukan berarti seorang istri/wanita tidak boleh mengerjakan tugas2 tersebut. Perlu dicermati bahwa terdapat perbedaan makna antara “bukan tugas wanita” dengan “bukan hanya tugas wanita”.

Wanita dan pria memang beda. Ada sisi2 yang membedakan antara keduanya. termasuk misalnya dalam hal alat kelamin. yang kemudian berimbas pada sisi2 lain, misal kekuatan perasaan dan logika, aurat dan kedudukan waktu sholat, dll, dsb. Tapi bukan dalam hal tugas/pekerjaan.

Tugas/pekerjaan tidak membedakan jenis kelamin. tidak kenal kodrat. Pekerjaan hanya tahu kompeten atau tidak. bisa mengerjakan atau tidak. Tidak masalah mau pria atau wanita, ketika dia mampu untuk mengerjakan dengan bagus, maka dia berhak mengerjakannya. Jadi, boleh2 saja wanita jadi polisi, hakim, mentri, pedagang, tukang sayur, tukang tambal ban, tukang panjat tower termasuk juga tukang cuci dan pembuat kopi, serta pekerjaan2 yang selama ini diklaim sebagai pekerjaan laki2. Dengan catatan: “Dia mampu dan kompeten”.

Bagi para wanita2 yang mulia, walaupun anda2 boleh dan bisa menduduki pos2 penting dalam hal pekerjaan, akan tetapi tentunya akan sangat bijaksana jika para wanita dapat membagi waktunya sehingga “Tugas Alamiah” yang sangat mulia bagi para wanita yaitu sebagai seorang “Ibu” tidak terkesampingkan. Mempersiapakan manusia2 masa depan tentunya merupakan pekerjaan yang sangat mulia dan penting sekali bagi kelangsungan kehidupan yang bermoral dimuka bumi ini. Dan biasanya para wanita yang lebih mampu dalam melaksanakan tugas tersebut. berkaitan dengan perasaan dan lain sebagainya. dan mungkin hal itulah yang bisa dimasukan dalam kategori kodrat wanita. Walaupun tugas untuk mendidik anak juga bukan semata2 tugas seorang ibu. Seorang bapakpun mempunyai tanggung jawab untuk mendidik anak agar menjadi manusia masa depan yang berguna bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.

Jadi menurut saya, sepertinya sangat bijaksana untuk berhenti membedakan jenis pekerjaan berdasarkan jenis kelamin. akan tetapi cenderung lebih membedakan pekerjaaan berdasarkan kemampuan atau yang biasa kita sebut “Kompetensi”.

Kamis, 21 April 2011.

Kharis Al Faqier.

Iklan